Jalan-jalan di Pulau 1000 Masjid

DSC_0790
Islamic Center Nusa Tenggara Barat

Selain dikenal sebagai pulau dengan keindahan alam yang masih perawan, Lombok juga dikenal sebagai Pulau 1000 masjid. Tahu kenapa? Begini ceritanya.

Pulau Lombok merupakan pulau yang dihuni oleh masyarakat dengan mayoritas beragama Islam sehingga membangun masjid dan melaksanakan amal jariyah menjadi satu keharusan bagi mereka. Saat kami mengunjungi salah satu masjid terbesar di Lombok, yaitu Islamic Center yang terletak di pusat Kota Mataram, bertemulah kami dengan seorang warga asli Mataram. Ia bilang, “Kami lebih baik tidak makan daripada tidak bangun masjid.”

Dari situlah cerita Pulau 1000 masjid ini dimulai. Singkat cerita, masyarakat Lombok memang lebih senang menghabiskan uang yang mereka dapatkan untuk membangun masjid. Tidak heran jika kamu akan menemukan banyak masjid mewah dan megah di setiap penjuru pulau yang satu ini.

Selain cirikhas 1000 masjid, Lombok juga terkenal dengan kekhasan Suku Sasak yang sudah lebih dari 600 tahun masih menggunakan sistem tradisional dalam banyak hal. Salah satu desa yang paling terkenal di sini adalah Desa Sade yang terletak di Desa Rimbitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Masyarakat asli Pulau Lombok ini berasal dari etnik Austronesia dengan jumlah penduduk desa sebanyak 700 orang.

DSC_0985
Desa Sade, Lombok

Ngomong-ngomong soal penduduk, ada yang menarik dari adat Suku Sasak ini. Terutama mengenai konsep pernikahan. Masyarakat Sasak biasanya akan menikah dengan sesama Suku Sasak karena dinilai lebih murah dibandingkan jika ia harus menikah dengan warga luar yang maharnya seharga 2 ekor kerbau. Selain itu, ada juga salah satu adat yang disebut dengan merari, yaitu adat yang mengharuskan seorang laki-laki menculik atau melarikan gadis yang akan dinikahinya. Setelah dibawa lari, warga setempat akan mencari-cari si lelaki seperti halnya seorang maling. Jika tidak tertangkap, maka si lelaki akan dianggap sebagai seorang yang jantan dan berhak menikahi gadis tersebut dengan pertemuan antara kedua belah pihak.

Sebelum menikah, akan ada seorang penyelabar yang mempertemukan pihak keluarga lelaki dan perempuan, serta melaporkan keinginan kedua belah pihak untuk menyelenggarakan pernikahan kepada ketua adat. Intinya, laki-laki yang ingin menikahi gadis Suku Sasak harus melakukan merari agar dianggap sebagai orang yang terhormat. Sementara itu, seorang gadis dari Suku Sasak harus pandai menenun terlebih dulu sebelum menikah.

DSC_0977
Budaya tenun Suku Sasak

Selain kultur yang menyimpan pesona 1000 masjid dan keunikan Suku Sasak, tentu saja keindahan alam dan tempat wisatanya sangat layak untuk dinikmati. Mau tahu ke mana saja kami selama di Lombok? Yuk, baca artikel yang satu ini: Dari Narmada sampai ke Kuta Lombok.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s