Pasar Seni ITB 2014, Lebih Nge-mall Ketimbang Nyeni?

Oleh : DA

“Kurasa, buat sebagian orang, seni menjadi bagian penting yang sulit dipisahkan dari diri mereka. Seni juga bentuk pelarian, cara untuk melampiaskan emosi. Mungkin karena itulah, seni terkadang bisa mengubah orang. (Annalise)” –Winna Efendi-

Mungkin kutipan di atas ada benarnya, seni bisa mengubah orang, begitu juga kehidupan.

Ini pulalah yang mungkin dirasakan oleh beberapa orang ketika mengikuti kegiatan Pasar Seni ITB setiap empat tahun sekalinya. Di tahun 2002, pertama kalinya saya datang ke Pasar Seni ITB, suasananya masih terbilang ‘sepi’ dibandingkan dengan Pasar Seni ITB yang baru saja digelar kemarin (23/11/2014).

Namun, ternyata sepi berbeda dengan kesepian. Bagi saya, nuansa Pasar Seni ITB 2002 jauh lebih nyeni dibandingkan dengan nuansa Pasar Seni ITB 2014. Apa sebabnya? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena kebutuhan seni sebagai hiburan dewasa ini semakin meningkat, maka masyarakat urban yang tidak terlampau ‘menggenggam’ seni pun ikut serta menyemarakkan kegiatan seni terbesar se-Asia Tenggara ini.

Sayangnya, perubahan memang tidak bisa dielakkan. Seni yang dulunya penuh dengan kesunyian ekspresi para seniman sekarang berubah menjadi seni yang hiruk pikuk dengan kegiatan marketing. Jika dulu pasar seni dijadikan sebagai ajang kreatif untuk saling bertukar seni, maka sekarang saya lebih melihat pasar seni sebagai mall dengan tema kesenian, tempat orang-orang menukar seni dengan uang.

Sama halnya dengan kegiatan ibadah haji yang tidak lagi bernuansa spiritual, Pasar Seni ITB yang baru selesai digelar ini pun memberikan euforia urban yang tak kalah besarnya dengan mall yang ada di kota besar.

Tidak ada kesunyian, tidak ada nilai kehidupan yang biasanya ditawarkan seniman. Yang ada hanyalah manusia urban yang ingin dianggap nyeni sehingga harus datang ke Pasar Seni dengan oleh-oleh benda nyeni yang filosofinya sendiri “I don’t care”.

Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Peradaban tidak bisa disalahkan karena ialah yang memberi perubahan, sedangkan kebudayaan pun tak bisa disalahkan karena ialah yang memberi akar kehidupan.

Advertisements

One Reply to “Pasar Seni ITB 2014, Lebih Nge-mall Ketimbang Nyeni?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s